On July 8, ICBB crews went hiking to the Mt Pangrango summit. Pangrango is the second highest mountain in West Java after Mt Ceremai, the height is around 3019 m above sea level (a.s.l). It is located in Gede Pangrango National Park with Its twin named Mt Gede, 2958 m a.s.l, and this both summits are connected by a high saddle known as Kandang Badak, 2400 m a.s.l, the location that often used as the camping ground by the climbers before they continue their journey to the Mt Gede summit or Mt Pangrango summit.
There are 14 climbers from ICBB, varied from 14 years old young boy until 48 years old man, young man also old lady. After getting the conservation entry permit, the climbers started to climb at 8 am through Cibodas Gate. This gate is the most popular gate. The Cibodas road climbs steeply for about 3 km and is lined with a marvelous display of flowering plants. Many people in Cibodas are skilled in the art of Bonsai. They are probably the biggest suppliers of ornamental plants in West Java.
After passing through th
e checking gate, there are some interesting spots that can attract the visitors. After one hour walking, the climbers found Telaga Biru/Blue Lake 1575 m a.s.l. The lakes color appears to undergo dramatic changes: sometimes it is green or dull brown but at other times it is a deep blue, depending on the algae growth cycles. The view across the lake shows the transition from sub-montane to montane vegetation. The rich diversity of the sub-montane forest near the lake edge gives way to the twisted Jamuju trees of the ridge top. These conifers become the dominant trees as the climbers climb the mid-slopes of the mountain.
Then climbers walked through a well built path and bridge. The bridge crosses over Rawa Gayonggong/Gayonggong Swamp. This is the area where the Java Leopard (Panthera pardus) lives. After passing the bridge, there will be hundred of stone stairs with Cibeureum Waterfall waiting in the end of the road. Cibeureum Waterfall in Sundanese means Red Waterfall, 1625 m a.s.l. Not one but three waterfalls, formed from the Cibeureum, Cidendeng, and Cikundul rivers, cascade over a dramatic cliff. A red moss can be seen grows on the rocky outcrops. Many of the bats seen flying around come from the nearby bat cave of Gua Lalay/Lalay Cave. The gibbons and the Ebony leaf monkeys often frequent the area.
Climb more upward, the climbers found Hot Water Spring, 2150 m a.s.l. The hot falls bring return to tropical lushness in the cool of montane forest. The water temperature here can be as high as 75°C, but falls when it rains. It is thought that the water is heated underground by the lava flow from the 1747 eruption. An alga, remarkably adapted to both hot water and high sulphur levels, grows in the stream bed.
After around 13 hours hiking, ICBB finally reach Mt Pangrango Summit, 3019 m a.s.l. Mt Pangrango is less visited than Gede. The climb is much steeper and the summit more wooded. The moss forest on the slopes of Pangrango is older than those of Gede, and richer in orchids and other flowering plants. The sky is really clear, and stars can be easily observed. The sunrise is marvelous. But most of the people can not slept well because of the up to 8?C temperature and the strong wind, make them shivering.
Near the summit, there is a large meadow where the Edelweiss grows. This meadow named Mandalawangi, where many climbers build they tents here and stay overnight. ICBB made it after a very long journey, get lost, hurt because of the stones and thorns, tired, a painful down the mountain, and bed rest a whole day. Surveying the grandeur and isolation of Gede and Pangrango, you will not be surprised to discover that these mountains are rich in history and legend. Such stories may well hold the key to our fascination with high places.
Famous Visitor:
Junghuhn (German) April 1839, Heinrich Kuhl and Johan van Hasselt (Dutch) August 1821, both nation fights each other claimed themselves as the first person that reached the Pangrango Summit.
Alfred Russel Wallace (British) 1861, the co-founder of the theory of Evolution, claimed the mountains on a collecting expedition.
Soe Hok Gie (Indonesian) 1966 an activist who opposed the successive dictatorships of former Presidents Sukarno and Suharto. He made a beautiful poem about Pangrango, titled Mandalawangi-Pangrango.
Stories from ICBB:
Dessy Arisanti. 27. ICBB internship graduate student. I’ve climbed several mountains in Sumatra and reached until the top. But Pangrango is the hardest track and the coldest that I ever experienced. I feel so happy and freedom when finally I reached the top. The teamwork is really wonderful. Things that I never forget are when I run out of water and slept snoring while my friends stay awake because of the cold and windy air.
Riyantiningsih. 46. ICBB General Manager. Pangrango is really a mystery.
The track is really hard. I’ve reached the top of Mt Gede before, and it was easier. I was so panic and my tears fell when I found my son was not around me. But I got a support from my husband and finally we found him waiting for us in front. Pangrango makes me healthier and make the bond of my family tied stronger.
Rifki Rahmatullah. 22. ICBB internship undergraduate student. I think pangrango is a beautiful mystery. I have taken many pictures from the journey and I would never forget it. I can feel everything which I haven’t experienced before, such hot spring, water fall, and the hard track. I could also stand close with some local birds, edelweiss flower, and felt the fresh air. At the early morning, from the top of Pangrango together with Hadi, 21, internship student, I saw sunrise and i could feel my mind so clear. It was so peaceful, a very beautiful view of sunrise. But the most important thing that I got from the journey is the togetherness with ICBB crews. I hope one day we will go back for tracking on Mt Gede summit because I really want to enjoy the view up there.
Ike Mulyani. 24. ICBB Lab Assistant. I didn’t join the team to Pangrango, because I was sick that day. And after hear their story, I really envy them. I hate myself being sick that day. I will join the next journey.
————————————————————————————————————————————————-
8 Juli, ICBB melakukan pendakian ke puncak Gunung Pangrango. Pangrango merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ceremai. Ketinggian Pangrango adalah 3019 mdpl. Gunung tersebut terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan gunung kembarannya yang bernama Gunung Gede dengan ketinggian 2958 mdpl. Kedua puncak gunung ini dihubungkan oleh sebuah sela gunung yang tinggi yang dikenal dengan nama Kandang Badak dengan ketinggian 2400 mdpl. Lokasi tersebut sering digunakan sebagai tempat camping sebelum para pendaki melanjutkan perjalanan mereka ke puncak Gunung Gede maupun Gunung Pangrango.
Kelompok ICBB terdiri dari 14 pendaki dengan tingkatan umur yang bervariasi, 14 tahun sampai 48 tahun, pria dan wanita. Setelah mendapatkan Surat Izin Masuk Konservasi (SIMAKSI), para pendaki ICBB memulai pendakian pada pukul 8 pagi melalui pintu Cibodas. Pintu ini merupakan pintu yang paling popular. Jalan Cibodas merupakan jalan yang mendaki sepanjang 3 km dan dihiasi oleh display tanaman bunga yang dijual oleh penduduk lokal di sepanjang jalannya. Banyak penduduk lokal Cibodas yang memiliki keahlian dalam seni Bonsai. Ada kemungkinan mereka merupakan pemasok terbesar tanaman ornamental di Jawa Barat.
Setelah melewati pintu pengecekan, terdapat beberapa tempat yang dapat menarik pengunjung. Setelah satu jam berjalan, pendaki menemukan Telaga Biru pada ketinggian 1575 mdpl. Warna dari telaga tersebut akan berubah-ubah secara dramatis: terkadang berwarna hijau atau coklat kusam tetapi di lain waktu berwarna biru gelap, tergantung dari siklus pertumbuhan alga yang ada di danau tersebut. Pemandangan di seberang telaga menampilkan transisi dari vegetasi sub-montana ke vegetasi montana. Keanekaragaman hutan sub-montana di dekat telaga yang kaya membuka jalan untuk pohon Jamuju berbaris berputar-putar menuju puncak. Pohon konifera ini menjadi pohon yang dominan terlihat seiring dengan pendaki menaiki gunung yang memiliki kemiringan sedang ini.
Kemudian pendaki berjalan melewati jalan setapak yang sudah cukup baik dan sebuah jembatan panjang. Jembatan tersebut melewati sebuah rawa yang dinamakan Rawa Gayonggong. Daerah ini merupakan tempat dimana macan tutul Jawa tinggal (Panthera pardus). Setelah menyeberangi jembatan, aka nada ratusan tangga batu dengan air terjun Cibeureum di ujung anak tangganya dengan ketinggian 1625 mdpl. Air terjun Cibeureum dalam Bahasa Sunda berarti air terjun merah. Bukan hanya satu melainkan tiga sumber dari sungai Cibeureum, Cidendeng, dan Cikundul, yang turun dari tebing yang curam. Lumut merah dapat terlihat tumbuh pada singkapan batu. Banyak terdapat kalelawar terbang yang berasal dari Gua Lalay, tempat dimana mereka tinggal. Monyet Owa dan monyet daun Ebony banyak terlihat di daerah ini.
Mendaki lebih tinggi lagi, pendaki menemukan air terjun dan sungai air panas pada ketinggian 2150 mdpl. Air terjun yang panas ini memberikan kehangatan di tengah dinginnya hutan montana. Suhu air disini dapat mencapai 75oC, tapi akan menurun jika terjadi hujan. Diperkirakan bahwa air tersebut dipanaskan di perut bumi oleh aliran lava yang berasal dari erupsi 1747. Ganggang yang sangat baik beradaptasi dengan air panas dan tingkat sulfur yang tinggi, tumbuh di dasar sungai.
Setelah melakukan pendakian selama 13 jam, ICBB akhirnya sampai pada puncak Gunung Pangrango, 3019 mdpl. Gunung Pangrango lebih jarang dikunjungi daripada Gunung Gede. Pendakiannya lebih curam dan di puncaknya banyak terdapat pohon. Hutan yang terdapat di Pangrango lebih tua daripada yang terdapat di Gunung Gede, dan Pangrango lebih kaya akan anggrek dan tanaman berbunga lainnya. Langitnya sangat bersih, dan bintang dapat dengan mudah diobservasi. Matahari terbitnya pun sangat indah. Tetapi kebanyakan orang tidak dapat tidur karena suhunya yang rendah yang mencapai 8oC dengan angin yang kuat yang membuat para pendaki menggigil.
Dekat dengan puncak, terdapat padang rumput yang luas yang dipenuhi oleh Edelweiss. Padang rumput ini dinamakan Mandalawangi, dimana banyak pendaki yang mendirikan tenda mereka dan tidur di padang rumput ini. ICBB akhirnya berhasil mendaki setelah perjalanan yang panjang, tersesat, terluka karena batu dan duri, lelah, kesakitan ketika menuruni gunung, dan istirahat seharian penuh setelahnya. Melihat dari kemegahan gunung Pangrango, kita tidak akan terkejut ketika mengetahui bahwa Gunung Pangrango memiliki sejarah dan legenda yang sangat kaya. Cerita-cerita tersebut mungkin merupakan kunci kekaguman kita dengan tempat yang megah dan tinggi.
Pengunjung terkenal:
Junghuhn (Jerman) April 1839, Heinrich Kuhl dan Johan van Hasselt (Belanda) August 1821, kedua kebangsaan ini bersaing mengklaim bahwa diri merekalah yang pertama kali menjejakkan kakinya di puncak Gunung Pangrango.
Alfred Russel Wallace (British) 1861, co-founder teori evolusi, mengaku mendaki Gunung Pangrango ketika melakukan ekspedisi koleksi keanekaragaman hayati.
Soe Hok Gie (Indonesia) 1966 seorang aktivis yang melawan kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto. Gie membuat sebuah puisi yang sangat indah tentang Pangrango yang berjudul Mandalawangi-Pangrango.
Cerita dari ICBB:
Dessy Arisanti. 27. Mahasiswa. Saya telah melakukan pendakian ke beberapa gunung di Sumatra dan berhasil mencapai puncaknya. Tetapi Pangrango merupakan trek tersulit dan suhunya paling dingin yang pernah saya rasakan. Saya merasa sangat bahagian dan merasakan kebebasan ketika saya sampai di puncak. Kerjasama dalam tim ICBB sangatlah luar biasa. Hal yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika saya kehabisan air minum dan saya tidur mendengkur dengan pulasnya sementara teman-teman saya terjaga sepanjang malam karena udara yang dingin dan berangin.
Riyantiningsih. 46. General Manager. Pangrango merupakan misteri dan treknya sangatlah sulit. Saya pernah melakukan pendakian ke puncak Gunung Gede, dan saat itu treknya jauh lebih mudah. Saya merasa sangat panic dan saya menangis ketika saya kehilangan anak saya. Tetapi kemudian saya mendapat dukungan dari suami saya dan akhirnya kami menemukan dia sedang menunggu kami di depan. Pangrango membuat saya lebih sehat dan semakin mendekatkan keluarga kami.
Rifki Rahmatullah. 22. Mahasiswa. Menurut saya Pangrango merupakan misteri yang indah. Saya telah mengambil banyak gambar dari perjalanan ini dan saya tidak akan pernah melupakannya. Saya dapat merasakan hal-hal yang belum pernah saya rasakan sebelumnya seperti air panas, air terjun, dan trek yang sangat sulit. Saya juga dapat berdiri dengan sangat dekat dengan burung-burung lokal, bunga edelweiss, dan merasakan udara yang sangat segar. Pada pagi hari, di puncak Gunung Pangrango bersama dengan Hadi, 21, Mahasiswa, saya melihat matahari terbit dan saya dapat merasakan pikiran saya sangat jernih. Saat-saat tersebut merupakan saat yang sangat damai, pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Tapi hal yang paling penting yang saya peroleh dari perjalanan ini adalah kebersamaan dengan ICBB. Saya berharap suatu hari nanti saya dapat kembali untuk mendaki puncak Gunung Gede karena saya sangat ingin menikmati pemandangan dari atas sana.
Ike Mulyani. 24. Pegawai ICBB. Saya tidak ikut pendakian ke Gunung Pangrango karena saya sedang sakit. Setelah mendengar banyak cerita menarik dari teman-teman, saya benar-benar sirik dengan mereka. Saya menyesali kondisi saya yang sakit hari itu. Saya akan ikut pendakian selanjutnya.
Reference:
Indonesian Ministry of Forestry. 2009. Mt Gede Pangrango National Park: Information Book Series. Cianjur: Gunung Gede Pangrango National Park.
Photos by: Rifki Rahmatullah
Text by: Daniel Chrisendo









